Senin, 04 Juni 2012

Candi Cetho Jenawi


Candi Cetho terletak di Dusun Cetho, Desa Gumeng, Kecamatan Ngargoyoso sebelah barat lereng Gunung Lawu pada ketinggian 1.400 meter diatas permukaan air laut. Candi ini dibangun pada abad ke-15, merupakan peninggalan pemerintahan Majapahit yang dominan dengan corak Agama Hindu. Laporan ilmiah mengenai candi ini pertama kali ditulis oleh Van de Vlies pada tahun 1842.


Candi Cetho terdiri dari 9 trap (teras) yang bentuknya memanjang dengan gapura pada tiap tingkatannya. Memasuki trap pertama berupa halaman candi yang berada pada posisi paling luar. Dari halam candi ini kita bisa melihat panorama indah dengan pandangan lepas kearah matahari tenggelam.  Pada trap kedua kita akan menjumpai petilasan Ki Ageng Krincing Wesi yang merupakan leluhur masyarakat Dusun Cetho. Pada trap yang ketiga dapat kita jumpai relief bebatuan diatas permukaan tanah yang menggambarkan nafsu biologis manusia berupa phallus (alat kelamin pria) dengan panjang lebih dari 2 meter. Disebelah kanan dan kirinya terdapat lambang kerajaan Majapahit sebagai penunjuk masa pembangunan candi. Memasuki trap ke empat kita akan menemui sebuah relief yang menggambar kan kisah perjuangan manusia yang ingin melepaskan diri dari malapetaka (Sudhamala). Pada trap yang kelima dan ke enam terdapat bangunan berupa pendopo yang biasa dipakai untuk upacara keagamaan. Naik ke teras ke tujuh dapat kita temui arca Sabdopalon dan Nayagenggong abdi dalem sekaligus penasehat spiritual Prabu Brawijaya. Memasuki trap berikutnya terdapat arca phallus Kuntobimo yang melambangkan kesuburan dan disebelahnya terdapat arca Prabu Brawijaya, melambangkan suri tauladan sebagai raja yang berbudi luhur dan dipercaya sebagai utusan Tuhan di muka bumi. Trap kesembilan adalah teras utama tempat memanjatkan do’a berupa kubus berukuran 1,5 meter.

Berdasarkan  kondisi saat reruntuhan mulai diteliti, candi ini memiliki usia yang hampir sama dengan usia Candi Sukuh. Jalan menuju ke Candi Cetho saat ini telah diperbaiki namun medan yang berat dan menanjak masih cukup memberatkan bagi kendaraan yang menuju kesana. Melalui jalan yang berkelok-kelok diantara hijaunya kebun teh yang luas membentang menjadi keasyikan tersendiri saat perjalanan sambil menikmati indahnya panorama kaki Gunung Lawu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar